Dari Hambalang ke Istana

Kurang dari sebulan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan (17.11). Pertemuan ini diprakarsai oleh undangan Presiden untuk makan siang bersama di Istana, sekaligus sebagai kunjungan balasan. 
Ilustrasi: Prabowo Subianto dijamu Presiden Joko Widodo di Istana, Kepresidenan
Sebelumnya, Presiden Jokowi mendatangi kediaman kompetitornya pada Pilpres lalu di kawasan Hambalang, tepatnya di Desa Bojong Koneng, Babakan Madang, Kab. Bogor, Jawa Barat (31/10). Pertemuan hangat nan bersahaja di Hambalang, telah menghasilkan sebuah solusi atas sekelumit permasalahan strategis bangsa Indonesia. Mulai dari semangat kenegarawanan, ketahanan ekonomi, hingga polemik yang menjadi perhatian publik kala itu, yaitu rencana aksi bela Islam jilid II 4 November.
Pertama, pertemuan di Hambalang menunjukkan sebuah keteladanan antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo kepada warga negara Indonesia. Keduanya mampu mengatasi egonya masing-masing dan duduk bersama demi kepentingan yang lebih besar, yaitu untuk bangsa dan negara. 
Di lain sisi, reaksi Pak Prabowo yang penuh persahabatan dalam menyambut Pak Jokowi menunjukkan sebuah sikap yang sudah langka di negeri ini, yaitu sikap kenegarawanan dari seorang tokoh.
Kedua, perbincangan mengarah ke proses pencarian solusi terkait program Nawacita pada Kabinet Kerja, yaitu pembangunan infrastruktur dan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Pak Prabowo dalam kesempatan tersebut menyarankan Pak Jokowi kiranya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam yang ada Indonesia dengan cara mengelola sendiri sumber daya tersebut.
Terakhir, ialah terkait permasalahan rencana aksi demonstrasi besar-besaran untuk mengadili calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang diduga telah melecehkan agama Islam. Secara umum Pak Prabowo meminta bahwa hukum itu tidak tumpul ke atas tapi tajam ke bawah, sehingga penegakan hukum harus adil tanpa adanya intervensi dan bebas dari kepentingan. 
Turut disepakati keduanya, yakni mendorong seluruh elemen tetap tenang dan saling bahu membahu untuk menjaga suasana saat perhelatan aksi 4 November tetap damai, tanpa tindakan anarkis yang dapat berimbas pada penanganan represif aparat. 
Lantas apa yang menginisiasi pertemuan kedua antara dua tokoh nasional di Istana kemarin?
Meski disebut sebagai bentuk kunjungan balasan, pertemuan di Istana menunjukkan sebuah instuisi poltik yang tajam. Pesan yang coba disampaikan sangat berkaitan erat dengan topik yang dibahas, Indonesia adalah negara yang majemuk dan beragam. Sama dengan lawatan sebelumnya, sikap keakraban dan bersahaja keduanya paling tidak memberi kesejukan di tengah situasi politik yang bergejolak.
Dalam pernyataan Pak Jokowi seusai jamuan tertutupnya mengatakan pembahasan kali ini membuahkan sebuah kesepakatan bahwa beliau dan Pak Prabowo berkomitmen untuk bersama-bersama menjaga Indonesia yang majemuk. Perbedaan pandangan dalam politik tak dapat dijadikan alasan untuk perpecahan. Ditambah lagi menurut Pak Prabowo bahwa Indonesia selalu menjadi incaran kekuatan-kekuatan besar dunia. Apapun perbedaan, perselisihan, mari diselesaikan dengan suasana yang sejuk, damai dan kekeluargaan guna mengantisipasi ancaman persatuan dan kesatuan bangsa.
Situasi gegap gempita politik Indonesia masih sangat terasa, meski Polri telah menetapkan Ahok sebagai tersangka atas dugaan penistaan agama. Lawan politik Ahok baik yang tergabung dalam ormas keagamaan, aktor ataupun partai poltik, bahkan warga tanpa keorganisasian sekalipun, nampak belum tercapai kepuasannya. 
Pasalnya masih kuat disuarakannya rencana aksi bela Islam jilid III pada 25 November mendatang. Hal ini mencerminkan adanya sebuah ambisi besar dari para lawan politik Ahok yang menginginkan percepatan pergantian status Ahok dari tersangka menjadi terdakwa bahkan terpidana, dengan mengesampingkan proses hukum yang berlaku. 
Indonesia sebagai negara hukum jelas tak dapat memenuhi tuntutan kilat tersebut. Adanya tahapan proses hukum untuk menetapkan status seseorang dari tersangka, terdakwa hingga terpidana. Semua proses tersebut tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat, seperti membalikan telapak tangan. Alhasil, muncul sikap arogansi dari para lawan poltik Ahok, yang berujung pada sebuah “counter attack”, seperti yang dibahas dalam tulisan sebelumnya, yaitu Agenda Polri dan “Counter Attack” untuk Lawan Politik Ahok.
Gonjang-ganjing situasi dan kondisi politik dalam negeri, membuat Presiden Jokowi seakan mengesampingkan sederet program kerjanya. Presiden banyak melakukan konsolidasi ke berbagai pihak guna meredam polemik yang sedang berkecamuk. Secara kasat mata, masyarakat awam politik dapat menilai bahwa Presiden Jokowi sedang membutuhkan teman yang banyak dalam menghadapi permasalahan strategis bangsa, termasuk di dalamnya melakukan pertemuan dengan pihak oposisi nomor wahid di pemerintahan Jokowi, yaitu Prabowo Subianto.
Pak Prabowo sebagai salah satu pihak inisiator terbentuknya Koalisi Merah Putih di Parlemen, tentu mempunyai andil besar dan tak dapat dipandang sebelah mata. Kapasitas politik yang beliau miliki, menjadikannya satu dari sedikit tokoh yang tepat untuk menambah kekuatan guna membangun bangsa Indonesia. Ditambah lagi sikap nasionalisme Pak Prabowo sebagai satu-satunya tokoh negarawan di negeri ini (versi dewasa ini), tak mungkin diragukan lagi.
Selain itu, seperti pada silahturahmi sebelumnya, kunjungan kali ini juga syarat akan makna yang luas. Makna tersebut dibungkus dalam sebuah pesan perdamaian antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Meski pernah menjadi rival pada Pilpres 2014, keduanya mampu menunjukkan suatu keteladanan yang baik, yaitu sikap kedewasaan politik yang kini dibutuhkan bangsa Indonesia. Pesan krusial yang tersirat dalam pertemuan ini, diharapkan dapat berimbas ke seluruh lapisan masyarakat dan memikul tanggung jawab bersama dalam menjaga kedamaian serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Share on Google Plus

About KasatMata

0 komentar:

Posting Komentar