Demo 4 November Bukan Cerminan Bhinneka Tunggal Ika

Demo damai 4 November merupakan demo terbesar sepanjang sejarah di Indonesia. Massa demo yang hadir pada aksi akbar penyuaraan pendapat tersebut bukan lagi dalam hitungan ribuan, tetapi mencapai jutaan jiwa. 
Ilustrasi: Sitausi saat Demo 4 November 2016
4 November ialah buah hasil adanya perbedaan persepsi dan sikap toleransi yang kian hari mulai terkikis. Alhasil menjadi sebuah modal terbentuknya sikap ketidak percayaan satu sama lain dan permusuhan yang semakin membesar bahkan melebar dari yang semula permasalahan Agama hingga menjadi masalah etnis dan kelompok. Layaknya sebuah bom waktu, perbedaan yang ada kini semakin membuat ruang semakin jauh antar satu golongan dengan golongan lainnya.  
Indonesia sebagai negara demokrasipun, kini tak lagi tercermin. Demokrasi yang digadang-gadang sebagai sistem pemerintahan yang sesuai untuk masyarakat yang majemuk malah menjadikan bomerang tersendiri bagi republik ini. Hal ini ditunjukkan bahwa fakta yang terjadi kini ialah demokrasi sudah tak mengenal aturan (bebas) atau lebih dikenal dengan demokrasi tanpa batas.
Indonesia sejatinya mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda namun tetap satu. Luasnya ibu pertiwi ini yang terbentang dari Sabang sampa Merauke, menciptakan keberagaman yang luar biasa. Negara ini sunggu kaya akan budaya, suku, etnis dan agama namun hidup berdampingan menjadi satu kesatuan yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, sikap Bhinneka Tunggal Ika kini tak lagi tercermin di dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Perbedaan dianggap suatu hal pemisah dan alasan kuat untuk tidak menjadi suatu kesatuan. Hal ini semakin jelas ditunjukkan dan aksi demo damai 4 November ialah salah satu pelopor sekaligus bukti nyata bahwa telah tercipta suatu jarak yang jauh antar sesama warga Indonesia.
Sikap toleransi saling menghargai justru berubah menjadi ajang mencela, berbeda ialah musuh, dan matinya sifat memaafkan satu sama lain.  Fenomena ini jelas bertolak belakang dari apa yang diamanatkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Persepsi yang keliru terhadap arti keberagaman harus diluruskan, karena adanya perbedaan menandakan kita adalah bangsa yang kaya, kuat dan mempunyai solidaritas yang tinggi sebagai sebuah negara. Jika masih ada keraguan di dalam hati, bahwa keberagaman akan menjadi negara ini semakin besar. Mari kita reflesikan sejenak pada saat masa-masa perjuangan, bukankah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus merupakan hasil jerih payah para pahlawan yang berbeda-berbeda namun sepakat bersatu demi satu tujuan?
Untuk itu, tiada yang tak mungkin Indonesia akan semakin menjadi negara lebih baik dari hari ini, jika semua elemen bangsa dari ujung pulau Sumatera ke ujung pulau Papua bersatu padu menatap masa depan dengan aman dan damai tanpa pertikaian.

Share on Google Plus

About KasatMata

0 komentar:

Posting Komentar