Mengalahkan Thailand dengan Strategi Orang Kedua

Alfred Riedl menyiapkan sejumlah alternatif strategi untuk pertandingan leg pertama final Piala AFF 2016 antara Indonesia vs Thailand. Namun, pelatih Timnas Indonesia ini masih belum memutuskan taktik mana yang benar-benar akan diterapkannya di laga kandang kontra sang juara bertahan.

Mengemban predikat bukan sebagai tim unggulan, bahkan sejak sebelum Piala AFF 2016 dihelat, pasukan Merah-Putih justru tampil militan di setiap pertandingan hingga secara mengejutkan lolos ke partai puncak. Kendati menyuguhkan permainan yang masih jauh dari sempurna, namun yang paling penting adalah mulusnya laju tim Garuda.

Lantas, apa yang akan dilakukan Riedl untuk laga final leg pertama nanti?

Elastisitas Formasi Garuda

Sumber: Tirto.id

Menghadapi pasukan yang bisa dikatakan satu level lebih baik macam Thailand, Riedl jelas tidak ingin tim besutannya hancur sia-sia, bahkan ketika Boaz Solossa dan kawan-kawan tampil di hadapan 30 ribu orang pendukung Timnas Indonesia.

Strategi bertahan pun kembali disiapkan meskipun kali ini lebih elastis. Riedl mengindikasikan akan memasang susunan pemain yang sama seperti ketika menahan Vietnam 2-2 meskipun bisa saja sang pelatih menyuguhkan sesuatu yang berbeda di duel sesungguhnya nanti.

Yang jelas, dari yang terlihat di sesi latihan jelang menjamu Thailand, 5 pemain paling belakang tampaknya masih akan diserahkan kepada Kurnia Meiga (kiper) serta kuartet bek yakni Benny Wahyudi, Fachrudin Wahyudi Aryanto, Hansamu Yama Pranata, dan Abduh Lestaluhu.

Bayu Pradana dan Manahati Lestusen sangat mungkin masih dipercaya untuk berduet lagi sebagai pelindung barisan pertahanan. Dua gelandang bertahan itu ditempatkan di belakang Stefano Lilipaly yang bakal diapit oleh Rizky Pora dan Andik Vermansah. Di garda terdepan, sang kapten Boaz Solossa tetap jadi andalan.

Elastisitas akan diterapkan manakala Thailand kian gencar menekan. Manahati Lestusen diinstruksikan ke belakang yang membuat tim Garuda bakal memainkan 5 bek sekaligus: dari 4-2-3-1 menjadi 5-4-1.

“Ketika kehilangan bola, kami akan terus berupaya merebut bola kembali. Kami coba latihan dengan 5 pemain bertahan. Kami menyiapkan dua formasi itu. Namun, tentu saja kami harus memikirkan formasi ketiga untuk pertandingan nanti," ucap Riedl kepada media.

Berani Main Terbuka?

Walau mengisyaratkan tampil bertahan dengan sedikit catatan, namun bukan berarti Riedl mengharamkan permainan terbuka, bahkan untuk menghadapi tim sekuat Thailand sekalipun. Itulah barangkali yang disebut Riedl dengan formasi ketiga.

Ya, Riedl sempat memakai formasi awal 4-4-2 di babak penyisihan Grup A. Boaz Solossa ditandemkan dengan Lerby Eliandry saat menghadapi Thailand di pertandingan pembuka dan Filipina di laga kedua. Hasilnya? 4 gol berhasil dilesakkan kendati gawang Kurnia Meiga juga kebobolan jumlah gol yang sama.

Taktik 4-4-2 juga pernah diterapkan di sejumlah laga ujicoba sebelum tampil di Piala AFF 2016. Ketika awal membentuk skuad timnas, Riedl mencoba Boaz Solossa dan Irfan Bachdim di lini depan dan efeknya cukup meyakinkan. Sayangnya, Irfan Bachdim cedera di detik-detik terakhir sehingga batal ikut ke Filipina.

Kemungkinan bermain terbuka di final leg pertama di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 14 Desember 2016 nanti pun sempat disinggung Riedl. Bahkan, pelatih kawakan berusia 67 tahun ini mengaku sudah menemukan titik lemah Thailand yang akan coba dimaksimalkan.

“Dari laga ke laga, penampilan Thailand memang semakin bagus, tapi mereka pasti punya kelemahan. Kami akan memanfaatkan kelemahan dari Thailand dan mencoba untuk membuat permainan jadi terbuka,” ungkap Riedl.

Tapi, Indonesia harus hati-hati. Thailand adalah tim terkuat di ASEAN yang levelnya disebut-sebut sudah layak bersaing di Asia. Kesempurnaan skuad asuhan Kiatisuk Senamuang sudah terbukti di Piala AFF 2016. Mereka selalu menang dan tertajam di depan sekaligus punya sektor pertahanan yang paling solid.

Dari 5 pertandingan yang telah dijalani, Thailand telah melesakkan 12 gol dan hanya kemasukan 2 gol. Momok paling mengerikan tentunya ada pada diri Teerasil Dangda. Kapten The Elephant War yang musim lalu main di La Liga bersama Almeria ini berpeluang besar meraih sepatu emas berkat 5 gol dalam 5 laga di Piala AFF 2016.

Tentunya bukan cuma Teerasil Dangda seorang yang patut diwaspadai. Kiatisuk Senamuang masih punya pemain lain yang juga bernaluri gol sangat tinggi seperti Sarawut Masuk, Siroch Chatthong, bahkan gelandang serang berdarah Swiss, Charyl Chappuis.

Bahaya Jika Tampil Menekan, Risiko Jika Bertahan

Sumber: Tirto.id
Yang harus dicamkan adalah: berani menggelar tekanan tinggi (high pressing) maupun memasang pertahanan rendah (deep line) sama-sama mempunyai risiko.

Jika berniat menekan Thailand dengan cara melakukan pressing saat lawan masih menguasai bola di daerah pertahanan sendiri, ini membutuhkan stamina yang tinggi. Tanpa itu, Indonesia niscaya akan kedodoran di babak kedua. Saat kalah dari Thailand di laga pembukaan, 2-4, Indonesia sendiri yang akhirnya kerepotan walau pun Thailand sebenarnya juga sangat kelelahan karena tiga hari sebelumnya baru bertanding di laga yang lain.

Opsinya adalah menggelar high pressing, medium pressing dan low pressing. Di menit-menit tertentu tampil menekan, di menit-menit yang lain bermain menunggu. Selain menjaga stamina, hal ini bisa menjaga mentalitas. Tertekan terus menerus, karena bermain terlalu dalam di pertahanan sendiri, tanpa bisa membuat serangan berbahaya, lama-lama dapat menggerus kepercayaan diri. Perlu untuk sesekali agresif menyerang, berani menaikkan garis pertahanan, dan mengirim 5-6 pemain ke pertahanan lawan.

Kuncinya adalah menjaga tempo. Dan ini yang tidak mudah dilakukan. Mengatur tempo permainan, dari cepat menjadi lambat, dari high pressing ke deep line, butuh kepemimpinan yang kuat di atas lapangan yang bertumpu pada proses latihan. Dan ini PR yang tak bisa diselesaikan dengan sekali dua kali latihan.

Sedangkan menumpuk pemain di pertahanan sendiri, pendeknya bermain menunggu, apalagi terus menerus "parkir bus" bisa sangat berbahaya.

Pertama, memasang garis pertahanan rendah berarti mendekatkan Thailand ke pertahanan Indonesia. Dan ini sangat berbahaya jika Thailand dapat merengsek hingga ke dalam penalti berkali-kali. Mereka sangat tajam dalam mencetak gol di dalam kotak penalti. 11 dari 12 gol Thailand lahir dari dalam kotak penalti. Maka penting sekali menjauhkan bola atau pemain lawan dari kotak penalti.

Kedua, bermain bertahan apalagi "parkir bus" di pertahanan sendiri itu membutuhkan konsentrasi yang stabil. Dan ini terkait keharusan memiliki fisik yang prima. Jika fisik habis, konsentrasi menurun, dan itu rentan blunder. Sekali membuat blunder, hukumannya bisa berupa gol. Seiring menit mendekati akhir pertandingan, konsentrasi bisa terkikis habis.

Di sinilah justru Thailand sangat mematikan. Pada menit-menit terakhir mereka terbiasa membunuh lawan-lawannya. 66% gol Thailand sepanjang gelaran Piala AFF 2015 justru lahir pada 15 menit terakhir pertandingan.

Strategi Orang Kedua

Dalam menyerang, Indonesia jelas harus mengandalkan serangan-serangan balik cepat, terutama mengandalkan umpan-umpan silang. Inilah kekuatan utama Indonesia. Kendati secara umum umpan-umpan silang Indonesia tidak terhitung baik, namun kecepatan para pemain sayap Indonesia (baik itu Andik atau Rizky Pora) bisa diandalkan untuk mengganggu pertahanan Thailand.

Catat, satu-satunya tim yang bisa menjebol gawang Thailand di Piala AFF 2016 adalah Indonesia. Di laga pembukaan, Indonesia bahkan mencetak dua gol (walau skor akhir tetap untuk keunggulan Thailand 4-2). Dan dua gol itu lahir melalui skema umpan silang dari kedua sisi sayap.

Maka membombardir pertahanan Thailand dengan umpan silang adalah cara yang tepat. Masalahnya adalah para penyerang Indonesia tidak terlalu istimewa dalam mengeksekusi bola-bola atas. Kekuatan utama Ferdinand Sinaga dan Boaz ada di kaki kiri, bukan kepala. Lerby Eliandry punya postur yang tinggi, bisa saja diandalkan untuk mengeksekusi umpan-umpan silang. Namun ini pun belum jaminan karena para pemain bertahan Thailand juga punya postur yang tidak kalah tinggi dari Lerby yang bertinggi badan 180 cm.

Jika demikian maka bantuan untuk para penyerang seharusnya tidak hanya datang dari para pemain sayap, namun juga dari para gelandang. Ini berarti semua pemain Indonesia, selain harus terlibat aktif dalam pertahanan, juga harus terlibat aktif dalam serangan. Pada dasarnya, melawan Thailand, semua pemain Indonesia harus bekerja keras. Tidak bisa tidak, semua tenaga harus dikerahkan. Juga harus disiplin, tentu saja.

Maka menjadi penting menyiapkan orang kedua menyambut muntahan duel-duel udara. Orang kedua inilah yang akan bergerak di belakang penyerang Indonesia, baik Lerby atau Ferdinand yang dipasang sebagai penyerang.

Siapa orang kedua yang bisa diharapkan? Bisa Stefano Lilipaly. Namun tidak ada nama lain yang paling dibebani harapan. Ya, siapa lagi jika bukan sang kapten: Boaz Solossa.

Agar Tak Dikunci sebagai Mister Runner-Up

Apapun itu, hasil maksimal yang tentunya berupa kemenangan sudah seharusnya menjadi harga mati yang wajib diraih pasukan Merah-Putih di kandang sendiri. Setelah misi itu tercapai, Riedl baru akan memikirkan strategi selanjutnya untuk menghadapi laga pamungkas di Thailand pada 17 Desember 2016 mendatang.

Entah bakal menerapkan taktik parkir truk tronton atau dengan cara-cara lain, sepertinya sudah tidak menjadi hal yang harus terus diperdebatkan. Yang paling utama adalah Rizky Pora dan kawan-kawan bisa berpesta-pora di Rajamangala serta membawa pulang trofi kampiun AFF ke tanah air untuk pertamakalinya.

Begitu pula dengan Rield yang tentunya ingin memutus predikat mister runner-up yang selama ini melekat. Terlebih lagi, karier kepelatihan Riedl sudah mendekati purna dan kemungkinan besar akan pensiun usai Piala AFF 2016 ini.

Tirto.id

Share on Google Plus

About KasatMata

0 komentar:

Posting Komentar