Menyaring Informasi di Media Sosial

Banjir informasi. Itulah yang dialami pengguna internet di mana pun, tidak terkecuali di Indonesia. Saat menonton televisi, membaca koran, mendengarkan radio, membuka mesin pencari untuk berselancar di dunia maya, dan login ke beberapa media sosial, mereka langsung diterjang informasi.

Sumber: Tirto.id

Informasi kini menjadi barang “murah”, mudah didapat. Internet itu lautan informasi, yang mudah dicari dengan Google atau mesin pencari lain. Bahkan apa yang tersedia di internet kadang tak perlu dicari. Mereka datang sendiri melalui media sosial. Di Twitter, misalnya, saat kita mengikuti akun-akun media, otomatis kita akan melihat berita yang dibagikan, tak peduli kita mencari atau tidak, tak peduli kita suka atau tidak. Bahkan saat mengikuti akun pribadi pun, yang bukan bagian dari media (misalnya jurnalis), mereka juga sering menyebarkan berita baik secara langsung maupun me-retweet dari akun-akun berita.

Hal yang sama terjadi di media sosial lain seperti Facebook, Path, Google . Selain itu, yang mungkin tak kalah banjirnya adalah penyebaran via aplikasi pesan singkat seperti WhatsApp dan Telegram.

Selain menyebarkan informasi dari media arus utama, pengguna media sosial juga membuat informasi sendiri, mulai dari yang paling ringan mengenai aktivitasnya sehari-hari, hingga yang agak berat seperti menulis blog, membuat VLOG, atau yang serius dan ekstensif seperti melakukan investigasi ala jurnalis yang kemudian disebarluaskan via akun media sosial masing-masing.

Sebagai gambaran tentang meluapnya informasi di era digital, perhatikan apa yang terjadi di internet dalam tempo 60 detik ini:


Media Arus Utama vs Media Sosial

Selama puluhan tahun, media arus utama, mulai dari TV, cetak, hingga radio, menjadi sumber informasi utama masyarakat. Kini, di era teknologi, era internet, era media sosial, media arus utama bukan satu-satunya sumber informasi masyarakat. Media sosial kini turut serta memproduksi dan menyebarluaskan informasi dengan caranya sendiri, yang seringkali tak terduga.

Informasi yang dihasilkan oleh media cetak, radio dan TV diolah para jurnalis dengan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Mereka memproduksi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya karena melalui proses cek dan ricek yang cukup panjang sebelum dirilis ke publik. Jika pun ada kesalahan atau kurang akurat, media bertanggungjawab untuk merevisi dan memberikan hak jawab.

Sebaliknya, informasi yang diproduksi dan disebarluaskan di media sosial oleh penggunanya adalah informasi yang tidak perlu memenuhi etika jurnalistik karena mereka memang bukan jurnalis. Pengguna media sosial adalah masyarakat, perorangan, yang dapat memproduksi informasi apa saja di berbagai layanan media sosial. Bahkan beberapa orang kini membuka kanal sendiri di telegram untuk menjaring audience dan menyebarkan informasinya, sebagaimana yang sudah lebih dulu terjadi di Youtube.

Selain memproduksi informasi, netizen juga menyebarkan informasi yang didapat dari media arus utama ke media sosial. Ada yang menyebarkan apa adanya, persis seperti yang disajikan media arus utama. Ada yang menafsir dan menulis ulang sesuai tafsirnya, baru kemudian disebarkan ke media sosial. Ada pula yang sengaja mengedit, lalu menyebarkannya, dengan tujuan tertentu, termasuk mencemarkan nama baik, atau menyesatkan informasi.

Nah, di dunia seperti inilah kita hidup sekarang. Inilah dunia yang disesaki informasi akurat (atau kadang tak akurat) yang diproduksi berdasarkan metode jurnalistik, informasi dari situs web yang dipersepsikan sebagai portal berita tetapi tanpa jurnalis dan editor serta bekerja tanpa memedulikan kaidah jurnalistik, serta informasi yang diproduksi warga media sosial yang memang tak memenuhi standar jurnalistik. Semua bercampur aduk. Saking campur aduknya, informasi yang sama bisa bermakna banyak sesuai tafsir masing-masing pengguna media sosial.

Di saat ada pertarungan politik atau bisnis, campur aduk dan banjir informasi makin deras mengalir. Ini bisa kita rasakan saat Pilkada di kota-kota besar dengan penduduk padat pengguna media sosial, seperti DKI. Media-media yang berpihak pada calon tertentu, terus memproduksi berita positif mengenai calon yang didukungnya, sekaligus tak gentar menulis berita negatif mengenai lawannya. Demikian pula para fans garis keras. Mereka juga memproduksi konten sendiri, yang mengunggulkan pesona calon yang didukungnya, sekaligus membuat muatan yang memojokkan lawannya. Bahkan kalau perlu merisak lawan.

Nah, di tengah banjir informasi seperti ini bagaimana kita menyaringnya?

1. Jangan hanya membaca judul.

Media online atau versi online media arus utama sangat bergantung pada klik. Semakin banyak klik, semakin terbuka peluang mendapat iklan. Agar mendapat klik tinggi dari media sosial, judul harus dibuat semenarik mungkin. Sayangnya, semenarik mungkin itu bisa terjebak menjadi seprovokatif mungkin, yang seringkali melenceng dari isi berita. Judul berita provokatif tak selalu sama dengan isi berita. Karena itu jangan terkecoh oleh judul. Jika ingin menyebarkannya, baca dulu isinya. Pastikan judul dan isi memang selaras.

2. Cek dan Ricek.

Media boleh memihak. Itu hak media, namun berita yang diproduksinya harus taat kaidah jurnalistik. Pembaca, artinya kita semua, mesti lebih rajin melakukan cek dan ricek terlebih dulu sebelum menjadikannya sebagai referensi. Cek ke media lain, yang menjadi lawannya, bagaimana sudut pandang media tersebut terhadap hal yang sama.

Pada kasus apakah Gubernur DKI, Ahok menghina agama Islam atau tidak ketika bicara di Pulau Seribu, media memiliki sudut pandang yang berbeda. Yang berpendapat tidak menghina, akan mengakomodir berita dan kolom yang mendukung pendapat itu. Sebaliknya yang berpendapat Ahok menghina, rajin membuat berita dan memuat kolom yang sependapat.

Saya biasanya membandingkan informasi dari tiga media yang berbeda untuk menyaring informasi. Jika sebuah berita hanya dimuat di satu atau media, saya cenderung hati-hati menggunakannya sebagai referensi. Jika di tiga media yang berbeda ada kesamaan informasi, barulah saya merasa aman menggunakannya sebagai referensi.

3. Ikuti akun-akun terpercaya.

Kita bisa berkawan banyak di Facebook, bisa mentok sampai 5.000. Kita bebas mengikuti orang lain di Twitter tanpa batasan jumlah, begitu juga di Instagram dan lainnya. Tapi hidup kita akan ruwet jika informasi mengalir terlalu banyak.

Teman di Facebook yang sebenarnya tak pernah kita kenal tapi membanjiri informasi layak di-unfollow, jika enggan untuk unfriend. Demikian pula di Twitter, unfollow saja akun-akun yang berisik dengan informasi tak akurat. Lebih baik kita mengikuti akun-akun terpercaya, meski mereka berbeda pandangan dengan kita.

3. Saring via fasilitas  penyaring di media sosial.

Setiap media sosial memiliki fasilitas untuk menyaring informasi, termasuk menyaring kata kunci. Di Twitter, saya menyaringnya dengan cara lain: membuat list akun yang layak dibaca informasinya. Isinya beberapa akun, baik punya kesamaan maupun perbedaan pandangan mengenai isu tertentu, tapi jumlahnya terbatas, paling banyak 100 akun, agar informasi yang mengalir ke otak bersih dari sampah informasi.

Tirto.id
Share on Google Plus

About KasatMata

0 komentar:

Posting Komentar