Pentingnya Agama Melawan Maraknya Kebencian dan Hoax

Pro-kontra, bahkan permusuhan, kerap terjadi saat isu agama mencuat. Pemahaman atas agama-agama menjadi penting agar masyarakat bisa hidup bersama.

Tahun 2016, Jakarta geger dengan kasus gubernurnya yang dituduh menista agama. Ahok berbicara tentang bagaimana surat Al-Maidah digunakan oleh politikus agar masyarakat tak memilihnya. Sebagian orang berasumsi Ahok menista ayat yang ia sebut. Ia pun dituntut masuk bui lantaran dianggap menistakan agama mayoritas.

Sumber: Tirto.id

Kali lain, menjelang perayaan Natal tahun lalu, kembali mengemuka wacana kristenisasi lewat penggunaan atribut Natal oleh pekerja di pusat-pusat perbelanjaan. Dalam sebuah acara diskusi di televisi, mereka yang kontra mengasumsikan pemakaian topi St. Claus atau aksesoris terkait Natal lainnya oleh para pekerja Muslim adalah suatu hal yang berlebihan dan tidak perlu dilakukan.

Sementara, pihak agama terkait Natal menyatakan ini bukanlah hal yang berasosiasi dengan kristenisasi, melainkan salah satu bentuk produk budaya populer yang lumrah ditemukan di mana pun dan dikenakan siapa pun karena tidak akan mengubah keyakinannya.

Belum lagi kasus-kasus penolakan terhadap sesama penganut agama yang terjadi belakangan ini. Tengok saja perlakuan terhadap kelompok Ahmadiyah di Depok tanggal 24 Februari lalu. Diskriminasi tak hanya datang dari organisasi-organisasi massa saja. Perlakuan diskriminatif dari birokrasi negara pun masih dirasakan sebagian masyarakat penganut keyakinan minoritas.

Banyak kabar bohong atau hoax yang bisa viral karena membonceng sentimen agama. Belum lagi ujaran kebencian yang juga disebar lewat grup-grup percakapan. Lama-lama, kohesi sosial dalam kehidupan bernegara bisa terancam. Bukan hanya di Indonesia, tapi komunitas di mana pun yang anggota masyarakatnya beragam.

Kenneth Primrose, ketua studi agama, moral, dan filosofis pada Robert Gordon's College di Skotlandia menekankan pentingnya peningkatan literasi agama agar masyarakat belajar hidup bersama satu sama lain.
Apa itu Literasi Agama?

Dalam artikel berjudul “Overcoming Religious Illiteracy: A Cultural Studies Approach” yang dimuat di situs World Connected History, Diane L. More mendefinisikan literasi agama sebagai kemampuan untuk melihat dan menganalisis titik temu antara agama dan kehidupan sosial, politik, dan budaya dari beragam sudut pandang.

Orang yang melek agama akan memiliki pemahaman dasar mengenai sejarah, teks-teks sentral, kepercayaan, serta praktik tradisi keagamaan yang lahir dalam konteks sosial, historis, dan budaya tertentu.

Saat diwawancarai oleh On Religion terkait literasi agama, Adam Dinham, profesor di bidang Faith and Public Policy dari Goldsmiths, University of London, menyampaikan bahwa dalam mengajarkan hal ini, pengetahuan dasar mencakup tradisi dan keyakinan agama-agama yang ada adalah suatu kebutuhan. Penting bagi seseorang untuk mencari tahu seputar keyakinan berbeda di sekitarnya. Untuk melakukannya, orang itu harus melepaskan pandangan bahwa agama adalah hal yang tradisinya tidak pernah berubah.
Berangkat dari Masyarakat Mayoritas Religius

Kendati dalam sebagian kebudayaan di dunia seperti Indonesia isu dan nilai-nilai agama masih menjadi prioritas, ia tidak serta merta mengindikasikan level literasi agama yang tinggi. Banyaknya orang yang mengklaim diri religius, bahkan para praktisi agama sekalipun, tidak dapat menjadi garansi literasi agama tersampaikan dengan baik.

Moore yang melakukan studi bersama pengajar-pengajar di Afrika Timur, Pakistan, India, Indonesia, dan AS telah menemukan irisan pemahaman mengenai agama terlepas dari berbagai perbedaan konteks negara-negara ini. Dari hasil observasinya, Moore melihat tradisi agama di beberapa tempat tersebut kerap direpresentasikan seragam dan statis. Agama juga tak jarang dipandang sejajar dengan sektarianisme sehingga studi mengenai agama menjadi konsep yang sulit diterima dan diaplikasikan.

Pendapat Moore ini sejalan dengan Dinham yang menemukan fakta-fakta bahwa agama sering diyakini para penganutnya sebagai hal yang mestinya diterima sebagaimana adanya (taken for granted) dan terlepas dari dunia ilmu pengetahuan. Padahal, Dinham berargumen bahwa agama sepatutnya juga dipandang dari sudut pandang sosiologi. Agama tak terlepas dari praktik kehidupan masyarakat, termasuk pembuatan kebijakan-kebijakan publik.
Literasi Agama Penting

Dalam buku Religious Literacy Leadership in Higher Education: An Analysis of Challenges of Religious Faith, and Resources for Meeting them, for University Leaders (2010), Dinham dan Jones menyatakan literasi agama penting untuk menangkal stereotipe dan membangun relasi yang baik di atas perbedaan-perbedaan yang ada.

Stereotipe negatif terkait penganut agama tertentu berpotensi melahirkan keputusan dan kebijakan yang membatasi hak-hak seseorang. Sentimen Trump terhadap Muslim misalnya, memicu Presiden AS tersebut membuat kebijakan pembatasan imigrasi penduduk dari sejumlah negara.

Dari perspektif lain, Duncan Green, penulis buku From Poverty to Power, menyoroti pentingnya literasi agama dalam rangka menganalisis dan memproyeksikan perkembangan masyarakat. Ia berargumen, agama berelasi dengan fenomena-fenomena sosial seperti kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan, atau gerakan sosial semacam Arab Spring.

Institusi agama juga dituju oleh orang-orang saat terjadi bencana sehingga penting untuk memiliki literasi agama agar sosialisasi reduksi risiko bencana dapat efektif disampaikan. Green juga melihat agama di banyak negara berkembang dipakai sebagai afiliasi untuk menyokong kekuatan politik.

Migrasi yang telah dan masih akan terus terjadi di aneka negara juga menjadi alasan lain mengapa literasi agama penting diajarkan. Data dari Pew Forum menunjukkan proyeksi perubahan jumlah penganut agama-agama di dunia yang cukup besar, utamanya dari penganut Islam yang pada 2050 diperkirakan akan menyaingi penganut Kristen.

Di Eropa, populasi Muslim diperkirakan menanjak dari 5,9% pada 2010 menjadi 10,2% pada 2050 dengan mempertimbangkan potensi migrasi di samping faktor demografi lain seperti tingkat fertilitas dan usia. Di Amerika Utara, populasi Hindu diprediksi berlipat ganda dari tahun 2010 yang mencapai 0,7% menjadi 1,3% pada 2050. Sedangkan di Timur Tengah dan Afrika Utara, migrasi penganut Kristen ke enam negara Gulf Cooperation Council (Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab) akan berpengaruh terhadap jumlah populasinya di sana, yakni di atas 3% pada 2050.

Sementara dari segi pergaulan sosial anak muda, Marisa Fasciano menulis dalam Teaching Tolerance, pengabaian terhadap keberagaman agama dan ekstremisme akibat kurangnya literasi agama menyebabkan pelajar kerap mengalami perundungan oleh teman-teman di sekolahnya. Tak pelak, hal ini membuat pelajar yang menganut agama yang dilekatkan stereotipe negatif mengalami kesulitan belajar.

Fasciano mengambil sampel dari pengalaman Amina Adekola (15) yang dilansir Voices of NY. Remaja penganut Islam tersebut sempat mendapat pertanyaan dari sebagian besar temannya, “Mengapa semua Muslim itu teroris?” ketika kelasnya tengah membahas pembantaian Boko Haram. Berhadapan dengan suara mayoritas tentunya menjadi kendala besar baginya untuk membuktikan bahwa hal tersebut salah.

Menerima segala sesuatu sebagaimana adanya tanpa pernah mempertanyakan atau mengkritisinya tak ubahnya seperti iman buta. Alih-alih membawa ketentraman, ia bisa memicu petaka dalam kehidupan masyarakat yang beraneka keyakinan. Tidak hanya antar-agama, pemahaman terhadap satu sama lain intra-religi juga menjadi kebutuhan untuk mewujudkan perdamaian.

Tirto.id
Share on Google Plus

About KasatMata

0 komentar:

Posting Komentar