Sekspionase dalam Perang dan Damai

Seks jadi alat spionase mujarab. Beberapa perempuan mengisi kisah percaturan agen intelijen dunia untuk menciutkan kekuatan lawan.

Pelacur, kata Rudyard Kipling pada 1888, “adalah profesi paling tua di dunia.” Profesi yang jadi kebutuhan banyak laki-laki. Selain bisa jadi pengorek duit, juga pengorek cerita dari para laki-laki

Sumber: Clipart.me

Alasan terakhir inilah yang membuat pihak intelijen Perancis dan Jerman memanfaatkan Margaretha Geertruida Zelle alias Mata Hari, yang pernah tinggal di Malang di masa kolonial Belanda. Bermodal tubuh menarik, dengan profesi penari erotis dan imej terselubung sebagai perempuan panggilan kelas atas, Mata Hari ditugasi untuk mengorek informasi dari para pembesar atau perwira militer.

Mata Hari mendekati Frederick Wilhelm Victor Augustus Ernest, putra mahkota Jerman. Belakangan, jelang berakhirnya Perang Dunia I, Mata Hari dieksekusi militer Perancis karena dianggap agen ganda yang bekerja juga untuk Jerman.

Mata Hari adalah salah satu mata-mata internasional yang terbaik. Ia juga pernah tinggal di Indonesia karena menikah dengan tentara KNIL. Kisah spionase Mata Hari bisa dibaca dalam artikel Tirto tentang Mengenal Mata Hari, Wanita Mata-mata Terhebat dalam Sejarah.

Selain Mata Hari, ada sejumlah perempuan yang diminta sebagai mata-mata penggugah gairah lawan. Tak hanya dari dunia abu-abu, asal dianggap cantik dan punya bakat seperti Mata Hari, mereka dibujuk atau dipaksa untuk mau meladeni kaum bangsawan, penyalur informasi antara dua atau lebih kekuatan yang tengah bersaing.

Dalam kisah klasik tentang laki-laki kuat bernama Samson, Delila menjadi perempuan yang dijadikan agen untuk mencari kelemahan Samson. Delila berhasil dan Samson yang kuat itu pun jadi laki-laki loyo. Di era modern, setidaknya Jerman pernah punya Stephanie Julianna von Hohenlohe, anak orang kaya dan terhormat Jerman yang biasa tampil sebagai sosialita menawan, yang merontokkan iman para menteri Inggris sebelum Perang Dunia II.

Organisasi intelijen Uni Sovyet, Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti alias KGB, begitu serius mempersiapkan mata-mata molek nan pintar sejak awal Perang Dingin. Mereka diambil dari sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Setelahnya, mereka dilatih dan dipekerjakan dengan pelbagai fasilitas di atas standar negara-negara komunis. Begitulah menurut David Lewis dalam Sexpionage: The Exploitation of Sex by Soviet Intelligence (1976).

Perempuan-perempuan itu beraksi bagaikan gadis-gadis Bond. Tampil menggoda, mau menyerahkan daging kepada intel lawan, untuk mengorek data-data berharga. Discovery Channel pernah membuat video dokumenter berjudul Spionage. Korbannya bisa siapa saja. Bisa tua-muda, lajang-berpasangan, homoseksual-heteroseksual, duta besar, atase militer, wartawan, bahkan penjaga keamanan. Merekalah korban yang biasa disebut honey trap, jebakan seksual alias—istilah slang di kita—terkena jebakan batman.

Setidaknya seorang sersan marinir Amerika bernama Clayton J. Lonetree pernah jadi korbannya. Menurut majalah Time pada 1987: “Clayton Lonetree, 25 tahun, begitu terhormat dengan tugasnya sebagai pengawal keamanan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Moskwa ... Ia diduga oleh atasannya membantu KGB Sovyet mencuri dokumen rahasia dari kantor Diplomatik Amerika di Moskow dan Wina. Lonetree, menurut pihak berwajib, punya hubungan asmara dengan agen perempuan KGB yang bekerja sebagai penerjemah di Kedutaan.”

Setelahnya Lonetree harus membayar mahal ongkos pelepasan libidonya pada perempuan Sovyet yang ternyata mata-mata itu: sembilan tahun penjara.

Jauh sebelum Lonetree, John Vassall, yang bekerja sebagai staf atase militer di Kedutaan Besar Inggris di Moskow, yang homoseksual (yang masih ilegal saat itu) terkena honey trap pada Juni 1956. Percintaan sesama jenisnya dipotret.

Vassall, yang enggan kehidupan seksualnya dibongkar, diancam bekerja untuk KGB. Menurut penulis obituarinya, meski Vassall menjadi agen yunior dalam birokrasi intelijen di Inggris, ia menyerahkan sejumlah dokumen yang memuat informasi soal progersi mata-mata negeri Ratu Elizabeth itu. Namun, kasusnya segera redup lantaran sebuah kasus yang jauh lebih merusak kredibilitas pemerintahan Perdana Menteri Macmillan (1957-1963): jalinan cinta segitiga John Profumo-Christine Keeler-Yevgeny Ivanov.

Christine Keeler, yang fotomodel Inggris, berkenalan dengan Profumo, orang penting dalam Departemen Peperangan Inggris yang menjabat Menteri Pertahanan Inggris. Profumo, yang sudah beristri, menjalin asmara dengan Keeler. Rupanya, Keeler juga berhubungan mesra pula dengan Ivanov, staf atase militer Sovyet di Inggris. Ivanov sebenarnya perwira intel militer Uni Sovyet alias GRU.

Perselingkuhan Profumo terbongkar pada 1963, begitu pula soal Ivanov. Terpaksa Profumo harus meletakkan jabatannya. Kabinet pimpinan Macmillan kemudian goyah dan bubar tak lama setelah skandal itu terkuak.


'Honey Trap' ala Moestopo

Di luar arena Perang Dingin, Indonesia juga pernah mencoba jurus honey trap. Ketika revolusi kemerdekaan, para pelacur dikerahkan untuk ikut serta melemahkan tentara Belanda. Kolonel Drg Moestopo, yang dikenal eksentrik dan panjang akal, mengerahkan para maling dan pelacur untuk berjuang melawan Belanda.

Menurut Soehardiman dalam Kupersembahkan kepada pengadilan sejarah (1993), pengerahan itu disetujui Sultan Hamengkubuwono IX untuk membersihkan ibukota Yogyakarta dari pencurian dan prostitusi.

“Kedua barisan itu dibawa oleh Mayjen dr. Moestopo ke front Bandung. Tugasnya mengacau musuh, menyelundup ke kota, dan melakukan sabotase,” klaim Soehardiman.

Barisan maling tentu saja untuk mencuri harta-harta musuh di daerah pendudukan. Kedua, para perempuan ini, yang dinamakan Pasukan Teratai, diharapkan dapat memberikan informasi soal kedudukan tentara Belanda, dengan cara melemahkan iman tentara Londo.

Idenya: serdadu ini jauh dari keluarga dan kekasih, dan siapa tahu birahi mereka yang ditekan selama perang bisa kepincut Pasukan Teratai. Tak tak jelas benar sejauh mana operasi honey trap ala Moestopo itu berhasil.

Sesudah revolusi kemerdekaan, mengecer libido seksual justru melanda. Hario Kecik melihat potensi bahaya macam ini. Terlepas dari benar-tidaknya gosip Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani berpoligami, Kecik dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia (2010) mencatat: “Kelemahan Yani di bidang seks dan wanita dianggap Amerika berguna dalam strateginya menghadapi Sukarno dalam jangka panjang.” Dalam buku hariannya, Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie mencatat betapa lemah iman pejabat Orde Lama atas perempuan cantik.

Bahaya honey trap tentu saja tak kenal waktu, banyak pihak percaya, bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Teknologi perekam yang makin canggih tentu makin memudahkan cara kerja menjebak orang-orang di lingkaran kekuasaan yang doyan berbuat mesum, sekaligus kian gampang disebarkan. Seiring teknologi informasi, apalagi di era semua-mua yang privat jadi konsumsi publik, banyak pejabat dari presiden sampai politikus tersandung kasus skandal seks.

Di Indonesia, lagi-lagi, jebak-menjebak dalam skandal seksual bukanlah perkara asing.

Tirto.id
Share on Google Plus

About KasatMata

0 komentar:

Posting Komentar